Dibalik Keindahan Kebun Teh

kebun teh1Pemandangan kebun teh memang sangat menakjubkan apabila kita melihat dengan mata telanjang panorama keindahannya akan membuat kita serasa berada di alam surga. Memang benar adanya dari mulai kesejukan dan keheningan merupakan daya tarik tempat itu sehingga menjadi sebuah wisata untuk berlibur. Hamparan hijau yang berada di pegunungan Jawa Barat memiliki suatu cerita yang orang tidak pernah ingin tahu soal keberadaan orang-orang yang berada di sekitar kebun teh. Ada apa disana, bagaimana kehidupanya, apakah sama seperti kehidupan orang-orang di kota besar.

Tercengang sekali setelah melihat salah satu tv swasta Indonesia yang meliput keadaan orang-orang yang tinggal disekitar kebun teh ternyata sangat memperihatinkan, mungkin nasib warga disana sama seperti nasib warga Indonesia lainnya yang tidak memiliki akses dari pemerintah kota setempat. Bukankah sangat penting rasa ingin tahu itu, bagaimana pola hidup orang-orang disekitar kita. Memang kalau soal nasib itu tidak sama apalagi kehidupan desa sulit untuk hal kebaikkan dalam arti kata ekonomi mereka itu jauh dari peruntungan.

Apa yang dituturkan seorang ibu yang bekerja di perkebunan teh sebagai pemetik selalu mendapat cobaan seperti daun teh yang terpetik kurang bagus atau sudah tua akan dikembalikan ke perkebunan. Katanya satu hari paling hanya mendapatkan Rp 7000 apalagi dengan adanya potongan teh yang tidak bagus itu akan membuat pendapatan semakin kecil. Waah… itu sama halnya kita membeli teh 1 dus kecil di toko-toko, jadi pendapatan mereka kurang lebih sama dengan pengeluaran kita sewaktu mebeli teh. Lain lagi dengan perjalanan mereka yang sangat jauh yang berada di balik bukit tentunya harus membutuhkan tenaga karena hanya ada jalan setapak saja dan untuk jalan kendaraan sangat jarang ditemukan.

Apalagi ketika seorang ibu pemetik teh itu menuturkan kendala lain yang begitu menyedihkan yaitu sebagai guru sampingan yang benar-benar ikhlas mengajar tanpa gaji kalau pun ada gaji itu berkat iuran warganya. Dia menceritakan untuk membeli satu dus kapur tulis kecil saja harus berjalan beberapa kilo dan membutuhkan Rp 60000 dan itu harus bisa menghematnya, coba bayangkan uang yang sangat berharga tadi kalau dibelikan langsung bisa mendapatkan kapur tulis lebih dari itu kemungkinan karena letaknya jauh itulah yang menjadi kendala bagi seorang pahlawan tanpa jasa. Benar-benar ini kisahnya mirip film laskar pelangi untuk membeli kapur tulis saja harus menghutang, apakah kisah ini banyak kesamaan pada masyarakat Indonesia lainnya. Dari ungkapan seorang ibu tadi mempunyai sebuah harapan besar agar pemerintah kota setempat mengakses atau memperhatikan bagaimana kehidupan mereka yang kurang beruntung, apalagi keinginan sebagai guru agar anak didiknya menjadi pintar itu membutuhkan dukungan masyarakat sekitar yang bisa membantu dalam segi apapun.

Itulah kegiatan masyarakat yang berada di balik perkebunan teh yang mengharapkan pembangunan kesejahteraan dalam kehidupan mereka. Dan maaf sekali untuk nama, tempat dimana mereka berada tidak dicantumkan karena penulis sendiri tahu dari TV swasta Indonesia jadi info ini memang benar adanya.

Posted on Mei 30, 2009, in Info and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. 1 Komentar.

  1. ah gambarnya kecil banget🙂

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: